Di tengah masyarakat
dan warga nahdliyin lazim dilaksanakan puasa ayyamul bidh (أَيَّامُ
الْبِيْضِ). Puasa ini dilakukan 3 hari,
pada tanggal 13, 14, 15 bulan Hijriyah. Banyak yang mengamalkannya, namun tidak
sedikit yang belum mengetahui keterangan terkait dengan amalan tersebut. Untuk
ini, perlu diangkat kajian ringan tentang amalan puasa ayyamul bidh ini.
Dari sisi
kesejarahan, puasa ayyamul bidh memiliki dua penjelasan tentang
asal-usulnya. Menurut sejumlah sumber yang berhasil dirangkum, sejarah ayyamul
bidh berkaitan dengan kisah diturunkannya Nabi Adam AS ke bumi dan terkait
gejala alam bulan purnama.
Asal-usul puasa ayyamul
bidh berkaitan dengan diturunkannya Nabi Adam AS ke bumi. Keterangan ini
termaktub dalam Kitab ‘Umdatul Qari` Syarhu Shahihil Bukhari karya Imam Badruddin Al-‘Aini.
Sebab
dinamai ayyamul bidh adalah riwayat Ibnu Abbas RA, , bahwa dinamai ayyamul
bidh karena ketika Nabi Adam AS diturunkan ke muka bumi, matahari
membakarnya sehingga tubuhnya menjadi hitam. Allah SWT kemudian mewahyukan
kepadanya untuk berpuasa pada ayyamul bidh (hari-hari putih); ‘Berpuasalah
engkau pada hari-hari putih (ayyamul bidh)’. Lantas Nabi Adam AS pun
mengerjakan puasa pada hari pertama, maka terjadi perubahan sepertiga anggota tubuhnya menjadi
putih. Ketika beliau melakukan puasa pada hari kedua, perubahan sepertiga anggota yang
lain menjadi putih. Dan pada hari ketiga, sisa sepertiga anggota badannya yang
lain berubah menjadi putih.
Setelah
3 hari berpuasa, tubuh Nabi Adam AS menjadi putih. Terjadi proses pemutihan
tubuh Nabi Adam AS setelah menjalankan perintah Allah SWT berpuasa 3 hari,
yaitu, tanggal 13,14, dan 15 tengah bulan purnama. Penamaan ayyamul bidh atau
hari-hari putih berkaitan dengan sejarah proses pemutihan tubuh Nabi Adam AS ketika diturunkan ke bumi.
Sementara pendapat yang lain, penamaan ayyamul bidh berkaitan dengan gejala (fenomena) alam. Lazimnya pada tanggal 13,14,15 bulan Hijriyah, posisi bulan berada pada fase purnama penuh. Pada malam-malam tersebut bulan memancarkan cahaya terang benderang. Sementara siang hari matahari bersinar terang juga. Dari fenomena alam ini muncul pendapat bahwa ayyamul bidh (hari-hari putih) itu berkaitan dengan suasana alam yang 3 malam terang benderang (purnama) dan siang harinya pun terang.
Syariat
Nabi
Pada
masa Nabi Muhammad SAW, amalan ayyamul bidh diyariatkan menjadi puasa
sunah muakkadah (sangat dianjurkan). Nabi Muhammad SAW secara rutin mengamalkan
puasa ayyamul bidh dan para sahabat pun menjalankannya.
Salah satu dasar amalan tersebut adalah hadits
riwayat Abu Dharr al-Ghifari RA.
يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ
ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، فَصُمْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ
عَشْرَةَ
Artinya, "Wahai Abu Dharr, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari satu bulan, maka berpuasalah pada tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas (bulan Hijriah)”.
Niat Puasa
Niat puasa sunah muakkadah ayymul bidh
adalah:
نَوَيْتُ
صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: “Saya niat puasa sunah ayyamul bidh karena
Allah Ta’ala”. Niat ini lazimnya dilakukan pada malam hari sebelum puasa
dilakukan.
Sebagai penutup, memperhatikan surat Edaran Lembaga
Falakiyah PBNU Nomor 146/PB.08/A.II.11.13/13/06/2026 tentang awal bulan
Muharram 1448H, maka puasa ayyamul bidh dilaksanakan pada 13,14,15
Muharram 1448H bertepatan dengan tanggal 29, 30 Juni dan 1 Juli 2026M. Selamat
menjalankan ibadah puasa ayyamul-bidh. (*)
