LTMNU(2/8)- Majelis Wakil Cabang
Nahdlatul Ulama (MWCNU) Ambal resmi menyatakan kesiapan menyelenggarakan Pelatihan Kader
Penggerak Masjid dan Musala Nahdlatul Ulama (PKP-MMNU) tahun
2026. Keputusan tersebut dihasilkan dalam rapat koordinasi yang digelar di
kompleks TPQ
Al Amin Pagedangan, Sabtu malam Ahad (1/8/2026). Meski
berlangsung dalam suasana santai dan penuh kekeluargaan, rapat berjalan khidmat
dengan menghasilkan sejumlah keputusan penting terkait pelaksanaan kegiatan.
Rapat
dihadiri Rais Syuriyah MWCNU Ambal K Ali Ma'muri, Ketua Tanfidziyah K Ansori,
jajaran pengurus harian MWCNU Ambal, serta Ketua Lembaga Takmir Masjid
Nahdlatul Ulama (LTM) PCNU Kebumen H Agus Salim Chamidi, M.Pd.I.
Pembahasan meliputi konsep pelatihan, materi, narasumber, kepesertaan, hingga
strategi tindak lanjut.
Ketua LTM
PCNU Kebumen, H Agus Salim Chamidi, mengapresiasi langkah MWCNU Ambal yang
menjadi penyelenggara PKP-MMNU di Kabupaten Kebumen. Menurutnya, fungsi masjid
saat ini harus terus diperkuat, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga
sebagai pusat pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi umat,
dan penguatan moderasi beragama. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan
kader-kader yang memiliki kapasitas kepemimpinan, kemampuan manajerial, serta
semangat khidmah kepada umat.
PKP-MMNU
direncanakan digelar pada Ahad, 20 September 2026, bertempat
di kompleks MTs GUPPI Ambalresmi. Panitia menargetkan 80 hingga 100
peserta yang merupakan utusan ranting NU, takmir masjid,
pengelola musala Nahdlatul Ulama se-Kecamatan Ambal. Jadwal pelaksanaan dipilih
pada September karena sepanjang bulan Agustus telah dipenuhi berbagai agenda
organisasi maupun kegiatan kemasyarakatan.
Kesiapan
Ambal sebagai tuan rumah PKP-MMNU didukung oleh potensi kelembagaan yang sangat
besar. MWCNU Ambal membawahi 32 Ranting NU yang tersebar di
seluruh desa dengan berbagai badan otonom dan lembaga yang aktif. Berdasarkan
data BPS
Kabupaten Kebumen 2025, Kecamatan Ambal dihuni 54.717 jiwa,
terdiri atas 27.163 laki-laki dan 27.554 perempuan.
Sementara itu, data Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama
mencatat terdapat 84 masjid dan 204 musala/langgar di wilayah Ambal.
Besarnya jumlah rumah ibadah tersebut menjadi modal sosial yang sangat
potensial untuk memperkuat gerakan dakwah dan pemberdayaan masyarakat.
Dari sisi
sosial-ekonomi, Ambal merupakan wilayah yang memiliki karakter agraris
sekaligus pesisir. Mayoritas masyarakat bekerja di sektor pertanian, disusul
perikanan, perdagangan, UMKM, dan jasa. Letaknya di jalur nasional lintas
selatan Jawa juga memberikan peluang berkembangnya ekonomi lokal. Potensi
tersebut menjadi ruang strategis bagi masjid untuk mengambil peran lebih luas,
tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan,
pelayanan sosial, dan pemberdayaan ekonomi umat.
Ambal juga
memiliki warisan sejarah Islam yang kuat. Wilayah ini pernah menjadi pusat Kadipaten Ambal (1928-1872), dan hingga kini masih menyimpan berbagai situs bersejarah seperti Masjid Tua Ambal
di Ambalresmi, maqam K.R.A.A. Poerbonegoro, serta kawasan Kedungwot
di Desa Pucangan yang dalam tradisi masyarakat dikenal sebagai salah satu
kampung santri tua di pesisir selatan Kebumen. Warisan tersebut menjadi bukti
bahwa tradisi memakmurkan masjid telah tumbuh dan berkembang di Ambal sejak
ratusan tahun lalu. Ambal juga terkenal dengan sate Ambal yang lezat.(*)
