Masjid Quba
merupakan masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam. Keberadaannya tidak
hanya memiliki nilai historis, tetapi juga teologis dan sosiologis. Masjid ini menjadi
simbol awal pembentukan masyarakat Islam yang berlandaskan iman, kebersamaan, dan
ketakwaan. Dalam kajian sejarah Islam, Masjid Quba sering dijadikan rujukan ideal
tentang bagaimana masjid seharusnya berfungsi, tidak hanya sebagai tempat ibadah
ritual, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat. Tulisan ini bertujuan untuk memetik hikmah dari sejarah Masjid Quba untuk kemajuan dan kebermanfaatan masjid mushola kita.
Sejarah Masjid Quba
Masjid Quba
dibangun pada tahun pertama Hijriah (622 M) ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari
Makkah ke Madinah. Sebelum memasuki Madinah, Nabi singgah selama beberapa hari di
perkampungan Quba, yang terletak sekitar 3-5 km di sebelah selatan Madinah. Di tempat
inilah Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat meletakkan batu pertama pembangunan
masjid (Shalabi, 2003:214). Pembangunan Masjid Quba dilakukan secara gotong royong
oleh Nabi dan para sahabat, mencerminkan prinsip kesetaraan dan kebersamaan dalam
Islam. Masjid ini dibangun di atas tanah milik Kalthum bin al-Hidm dan Sa‘ad bin
Khaythamah dari Bani ‘Amr bin ‘Auf (Al-Mubarakfuri, 2004:164).
Al-Qur’an
secara eksplisit menyebut Masjid Quba sebagai masjid yang didirikan atas dasar takwa:
“Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih
pantas engkau melaksanakan shalat di dalamnya.” (QS. At-Taubah, 9:108). Mayoritas
mufassir, seperti Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa ayat ini merujuk kepada Masjid
Quba (Ibnu Katsir, 2000:504).
Keutamaan Masjid Quba
Sebagaimana
disebutkan dalam QS. At-Taubah (9:108), Masjid Quba dipuji karena fondasinya adalah
takwa, bukan kepentingan politik atau riya. Hal ini membedakannya dari Masjid Dhirar
yang dibangun dengan niat memecah belah umat (Quraish Shihab, 2002:580).
Rasulullah
SAW sangat memuliakan Masjid Quba. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Barang siapa
bersuci di rumahnya kemudian mendatangi Masjid Quba dan shalat di dalamnya, maka
ia mendapatkan pahala seperti pahala umrah.” (HR. Ibnu Majah). Hadits ini menunjukkan
bahwa Masjid Quba memiliki keutamaan spiritual yang tinggi dan menjadi tujuan ibadah
yang dianjurkan oleh Nabi.
Peran Masjid Quba pada Masa Nabi SAW
Pusat Ibadah. Masjid Quba berfungsi utama sebagai tempat shalat berjamaah
dan penguatan spiritual umat Islam awal. Ibadah di masjid ini menanamkan nilai ketakwaan
dan kedisiplinan kolektif.
Pusat Konsolidasi Sosial. Masjid Quba menjadi tempat berkumpulnya
kaum Muhajirin dan Anshar. Di sinilah nilai persaudaraan (ukhuwah islamiyah) mulai
dibangun secara nyata (Haekal, 2013:198).
Simbol Pembentukan Masyarakat Islam. Menurut Ali Syari‘ati, masjid pada
masa Nabi adalah institusi pembentuk kesadaran sosial umat, bukan sekadar tempat
ibadah ritual (Syari‘ati, 1996:87). Masjid Quba merupakan contoh awal dari fungsi
tersebut.
Fungsi Masjid Quba dalam Perspektif Pemikir Islam
Yusuf al-Qaradawi
menegaskan bahwa masjid ideal adalah masjid yang hidup, yang mampu merespons persoalan
umat dan menjadi pusat pembinaan akhlak serta solidaritas sosial (Al-Qaradawi, 2000:112).
Dalam konteks ini, Masjid Quba menjadi model normatif bagi pengelolaan masjid di
sepanjang sejarah Islam. Nurcholish Madjid juga menyatakan bahwa masjid pada masa
awal Islam berfungsi sebagai pusat peradaban, tempat lahirnya etika sosial, ilmu
pengetahuan, dan kesadaran kebangsaan umat (Madjid, 1997:45).
Relevansi Masjid Quba bagi Umat
Masjid Quba
memberikan pelajaran penting bahwa keberhasilan sebuah masjid tidak ditentukan oleh
kemegahan bangunan, tetapi oleh niat, fungsi, dan dampak sosialnya. Masjid harus
dibangun atas dasar takwa, dikelola secara inklusif, dan diarahkan untuk kemaslahatan
umat.
Dalam konteks
modern, fungsi Masjid Quba dapat direfleksikan dalam penguatan peran masjid sebagai
pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, serta penjaga nilai moderasi dan persatuan
sosial.
Kesimpulan
Masjid Quba
merupakan tonggak sejarah peradaban Islam. Ia bukan hanya masjid pertama, tetapi
juga prototipe masjid ideal dalam Islam. Dengan fondasi takwa, kebersamaan, dan
pelayanan umat, Masjid Quba mengajarkan bahwa masjid adalah jantung kehidupan umat
Islam. Nilai-nilai yang melekat pada Masjid Quba tetap relevan dan kontekstual untuk
dijadikan rujukan dalam pengelolaan masjid masa kini dan masa depan.
Akhirnya,
jelang Ramadhan 1447H tahun ini, mari kita perkokoh peran dan fungsi masjid dan
mushola di tengah umat. Mari kita makmurkan dengan ibadah shalat berjamaah,
pengajian, tadarrus, shalawatan, kajian keIslaman, iktikaf, dan sejenisnya. Kita
perhatikan kesejahteraan fakir miskin, kaum jompo dan yatim piatu di sekitar
masjid mushola, juga kesehatan kyai/imam, serta pendidikan diniyah Islamiyah anak-anak dan remaja. Bersihkan harta dengan zakat,
sisihkan sebagian harta untuk infak dan sedekah melalui masjid mushola, mumpung
bulan Ramadhan tiba. Mari kita perkuat peran dan fungsi masjid mushola kita dalam memperhatikan umat di sekitarnya. [LTMNU]