Ramadhan selalu datang membawa suasana yang berbeda.
Di bulan ini, umat Islam menjalankan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Perintah puasa ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan
atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa” (QS. Al-Baqarah, 2:183). Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama puasa
adalah membentuk ketakwaan. Takwa berarti sadar bahwa Allah selalu mengawasi setiap
perbuatan kita. Jadi, puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi melatih hati
agar lebih dekat kepada Allah. Di hari kedua Ramadhan ini, kita diingatkan kembali
bahwa puasa adalah sekolah ruhani yang berlangsung sebulan penuh.
Secara ajaran Islam, puasa adalah ibadah yang
langsung dinilai oleh Allah. Dalam hadits qudsi, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa
Allah berfirman: “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya” (HR.
Bukhari dan Muslim). Hadits ini memberi pesan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa
dibanding ibadah lain. Orang boleh saja terlihat shalat atau bersedekah, tetapi
puasa hanya Allah yang benar-benar tahu keikhlasannya. Karena itu, puasa melatih
kejujuran batin. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa bukan hanya menahan perut,
tetapi juga menjaga mata, telinga, dan lisan dari dosa (Al-Ghazali, 1993:87). Jika
hanya lapar tanpa menjaga sikap, maka nilai puasanya berkurang. Maka, hikmah pertama
puasa adalah membersihkan diri lahir dan batin.
Puasa juga mengajarkan kesabaran. Ketika perut
lapar dan tenggorokan haus, kita belajar menahan diri dari marah dan emosi. Rasulullah
SAW bersabda, “Puasa itu adalah perisai” (HR. Bukhari). Perisai berarti pelindung
dari dosa dan api neraka. Orang yang berpuasa diminta tidak membalas caci maki,
bahkan jika diganggu cukup mengatakan, “Saya sedang puasa.” Ini adalah latihan pengendalian
diri yang sangat kuat. Dalam kehidupan desa, godaan bisa datang dari hal sederhana
seperti obrolan yang menjurus gosip. Puasa mengajarkan kita untuk memilih diam daripada
menyakiti orang lain. Dari sini terlihat bahwa puasa membentuk akhlak yang lebih
baik.
Dari sisi spiritual, puasa memperkuat hubungan
manusia dengan Allah. Saat sahur di waktu sepertiga malam, suasana hening membuat
hati mudah khusyuk berdoa. Al-Qur’an menyebutkan bahwa Allah dekat dan mengabulkan
doa hamba-Nya (QS. Al-Baqarah, 2:186). Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an
(QS. Al-Baqarah, 2:185). Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak membaca
Al-Qur’an. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Ramadhan disebut bulan Al-Qur’an karena
di dalamnya wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW (Ibnu Katsir, 2000:312).
Maka puasa bukan sekadar menahan makan, tetapi juga memperbanyak ibadah dan tadabbur.
Hati yang sering membaca Al-Qur’an akan menjadi lebih lembut dan tenang.
Dalam pandangan pemikir Islam modern seperti Yusuf
al-Qaradawi, puasa memiliki dimensi sosial yang kuat. Ia menjelaskan bahwa rasa
lapar membuat orang kaya merasakan penderitaan orang miskin (Al-Qaradawi, 1995:145).
Dari pengalaman lapar itu lahir empati dan semangat berbagi. Tidak heran jika di
bulan Ramadhan, sedekah meningkat. Zakat fitrah diwajibkan agar kaum fakir juga
bisa merasakan kebahagiaan Idul Fitri. Puasa dengan demikian membangun solidaritas
sosial. Dalam masyarakat desa, kebiasaan berbagi takjil dan makanan sahur menjadi
wujud nyata kepedulian. Hikmah ini mempererat persaudaraan antarwarga.
Dari sisi budaya, Ramadhan membentuk tradisi yang
khas. Di banyak kampung, ada kebiasaan membangunkan sahur bersama, tadarus di masjid,
dan buka puasa bersama. Tradisi ini memperkuat nilai gotong royong. Walau budaya
bisa berbeda-beda antar daerah, semangatnya tetap sama: kebersamaan dalam ibadah.
Puasa menjadikan masjid lebih hidup daripada bulan lain. Anak-anak hingga orang
tua berkumpul dalam satu suasana religius. Ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan
hanya ibadah pribadi, tetapi juga peristiwa sosial budaya. Dengan demikian, puasa
menjaga identitas keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, perlu diingat bahwa budaya tidak boleh
mengalahkan nilai ibadah. Jika buka puasa berubah menjadi ajang pamer makanan mewah,
maka hikmah kesederhanaan bisa hilang. Islam mengajarkan sikap pertengahan atau
wasathiyah. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa umat Islam adalah umat pertengahan
(QS. Al-Baqarah, 2:143). Artinya, tidak berlebihan dan tidak pula meremehkan. Puasa
mengajarkan hidup sederhana dan hemat. Di desa, makanan sahur sering kali sederhana,
tetapi penuh berkah. Kesederhanaan itulah yang justru memperkuat rasa syukur.
Dari perspektif kesehatan, puasa memiliki manfaat yang telah diteliti oleh para ahli. Proses menahan makan selama beberapa jam memberi kesempatan sistem pencernaan beristirahat. Menurut penelitian medis, puasa dapat membantu proses detoksifikasi alami tubuh (Husain, 2019:52). Saat tidak ada asupan makanan, tubuh menggunakan cadangan energi dan memperbaiki sel-sel yang rusak. Dalam istilah medis modern dikenal konsep autophagy, yaitu proses pembersihan sel. Puasa yang teratur dapat membantu mengontrol berat badan. Namun, manfaat ini hanya terasa jika tidak berlebihan saat berbuka. Jadi, pola makan seimbang tetap penting.
Selain itu, puasa juga berdampak pada kesehatan
mental. Menahan diri dari makan dan minum melatih disiplin dan fokus. Beberapa penelitian
psikologi menunjukkan bahwa pengendalian diri meningkatkan kestabilan emosi (Rahman,
2020:77). Ketika seseorang mampu menahan dorongan dasar seperti lapar, ia lebih
mudah mengendalikan amarah dan nafsu lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini
sangat berguna untuk menjaga keharmonisan keluarga. Puasa membuat orang lebih sabar
menghadapi masalah. Ketenangan batin inilah yang sering dirasakan oleh orang yang
menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh.
Puasa juga mengajarkan manajemen waktu. Jadwal
sahur, shalat, bekerja, hingga berbuka membuat hari lebih teratur. Orang yang terbiasa
bangun sahur akan lebih disiplin bangun pagi. Waktu malam yang biasanya terbuang
bisa diisi dengan tarawih dan tadarus. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini membentuk
pola hidup yang lebih teratur. Disiplin adalah salah satu kunci keberhasilan dalam
hidup. Maka puasa tidak hanya berdampak pada akhirat, tetapi juga pada kualitas
hidup di dunia.
Dalam perspektif ekonomi keluarga, Ramadhan sebenarnya
bisa mengajarkan penghematan. Jika biasanya makan tiga kali atau lebih, saat puasa
cukup dua kali utama: sahur dan berbuka. Namun sering terjadi pengeluaran justru
meningkat karena membeli banyak makanan berbuka. Ini menunjukkan bahwa hikmah puasa
belum sepenuhnya dipahami. Islam melarang pemborosan (QS. Al-A’raf, 7:31). Puasa
seharusnya mendidik kita hidup secukupnya. Dengan demikian, keluarga bisa menabung
atau lebih banyak bersedekah. Nilai kesederhanaan ini sangat relevan bagi masyarakat
pedesaan.
Hikmah lainnya adalah memperkuat rasa syukur.
Ketika setiap hari kita bisa makan dan minum dengan mudah, sering kali kita lupa
bersyukur. Namun setelah seharian menahan lapar, seteguk air terasa sangat nikmat.
Pengalaman ini menyadarkan bahwa nikmat kecil pun adalah karunia besar. Syukur bukan
hanya diucapkan, tetapi dirasakan. Dengan puasa, hati menjadi lebih peka terhadap
karunia Allah. Rasa syukur ini melahirkan ketenangan dan kebahagiaan.
Puasa juga menjadi latihan menghadapi kesulitan
hidup. Hidup tidak selalu mudah, kadang ada kekurangan dan cobaan. Orang yang terbiasa
berpuasa lebih siap menghadapi kondisi sulit. Ia sudah terlatih menahan diri dan
bersabar. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang sabar akan mendapat pahala tanpa
batas (QS. Az-Zumar, 39:10). Kesabaran inilah yang menjadi bekal menghadapi tantangan
hidup. Maka puasa adalah latihan mental yang sangat berharga.
Bagi generasi muda, Ramadhan adalah momen pendidikan
karakter. Anak-anak belajar bangun pagi, belajar shalat berjamaah, dan belajar berbagi.
Pendidikan seperti ini tidak selalu didapat di sekolah. Lingkungan keluarga dan
masjid menjadi tempat belajar utama. Jika sejak kecil anak merasakan indahnya Ramadhan,
maka nilai agama akan tertanam kuat. Inilah investasi moral bagi masa depan desa
dan bangsa. Puasa membentuk generasi yang beriman dan berakhlak.
Akhirnya, hikmah puasa Ramadhan mencakup dimensi Islam, budaya, dan kesehatan sekaligus. Ia membersihkan jiwa, mempererat persaudaraan, dan menyehatkan tubuh. Semua hikmah itu hanya terasa jika puasa dijalankan dengan niat yang ikhlas dan cara yang benar. Ramadhan adalah kesempatan memperbaiki diri sebelum datang bulan berikutnya. Setiap hari puasa adalah latihan menjadi manusia yang lebih baik. Semoga di hari ini dan selanjutnya, kita semakin memahami makna puasa dan mampu meraih ketakwaan yang dijanjikan Allah.
Sebagai penutup, mari kita tetap semangat menjalankan sholat tarawih. Mari kita semarakkan masjid/mushola kita dengan sholat jamaah, tadarrus Al Quran dan pengajian. Jika Anda mendapatkan rejeki lebih, sisihkan sebagian untuk infaq sodaqoh di masjid mushola kita. Jika kas masjid/mushola mencukupi, manfaatkan untuk memakmurkan masjid mushola di bulan suci Ramadhan. [ltmnukebumen]
[20022026]
