Ticker

6/recent/ticker-posts

Nisfu Syab'an, Makmurkan Masjid Mushola


PBNU melalui Lembaga Falakiyah mengumumkan awal bulan Sya’ban 1447H jatuh pada malam Selasa Pahing 20 Januari 2026M. Nisfu Sya’ban pada 15 Sya’ban malam Selasa Legi 3 Pebruari 2026M. Tulisan ini mencoba mengulas sedikit seputar bulan Sya’ban dan Nisfu Sya’ban.

Bulan Sya‘ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriah yang terletak di antara Rajab dan Ramadhan. Dalam perspektif Islam, Sya‘ban memiliki kedudukan penting sebagai masa persiapan spiritual menuju Ramadhan. Al-Qur’an tidak menyebut Sya‘ban secara eksplisit, namun konsep pergantian waktu dan kemuliaan bulan-bulan tertentu ditegaskan dalam firman Allah tentang bilangan bulan dalam setahun (QS. At-Taubah, 9:36). Para ulama kemudian memahami bahwa Sya‘ban termasuk bulan yang memiliki keutamaan berdasarkan sunnah Nabi SAW.

Keutamaan bulan Sya‘ban banyak dijelaskan dalam hadits. Usamah bin Zaid meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW memperbanyak puasa di bulan ini. Ketika ditanya alasannya, Nabi SAW bersabda bahwa Sya‘ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia karena berada di antara Rajab dan Ramadhan, padahal pada bulan itulah amal-amal diangkat kepada Allah (HR. An-Nasa’i; Ibnu Majah). Hal ini menunjukkan bahwa Sya‘ban merupakan momentum evaluasi dan peningkatan kualitas ibadah sebelum memasuki Ramadhan.

Pandangan di atas selaras dengan Imam Al-Ghazali,  bahwa Sya‘ban merupakan bulan persiapan intensif sebelum Ramadhan, terutama dengan puasa sunnah, pembersihan hati, dan penguatan niat. Pandangan ini sangat berpengaruh dalam tradisi Islam Nusantara, yang menjadikan Sya‘ban sebagai waktu untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan sosial, dan meningkatkan kesadaran spiritual sebagai bekal memasuki bulan suci.

 Nisfu Sya‘ban dan Amalannya

Di dalam bulan Sya‘ban terdapat satu malam yang sangat dikenal oleh umat Islam, khususnya di kawasan Nusantara, yaitu malam Nisfu Sya‘ban (pertengahan bulan Sya‘ban, malam tanggal 15). Malam ini dipahami sebagai malam penuh rahmat dan ampunan. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah menurunkan rahmat-Nya kepada seluruh makhluk pada malam Nisfu Sya‘ban dan mengampuni dosa mereka, kecuali orang yang musyrik dan yang menyimpan permusuhan (HR.Ibnu Majah). Imam Asy-Syafi‘i menyatakan bahwa doa pada lima malam sangat mustajab, salah satunya adalah malam Nisfu Sya‘ban. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan malam ini dengan berbagai amalan ibadah seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa memohon ampunan serta kebaikan hidup di dunia dan akhirat.

Dalam tradisi Islam Nusantara, Nisfu Sya‘ban sering diisi dengan pembacaan Surah Yasin tiga kali, tahlil dan shalawat, dan doa-doa. Praktik ini bertujuan memperkuat kesadaran akan kematian, takdir, dan harapan akan rahmat Allah. Para ulama seperti KH. Hasyim Asy‘ari menekankan bahwa amalan Nisfu Sya‘ban selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat dan diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka termasuk amal yang baik.

Makna utama Nisfu Sya‘ban bukan semata-mata pada bentuk ritualnya, melainkan pada spirit taubat, introspeksi diri, dan perbaikan akhlak. Malam ini dipahami sebagai momentum untuk memperbaiki hubungan dengan Allah (ḥabl minallāh) dan dengan sesama manusia (ḥabl minannās), agar memasuki Ramadhan dengan hati yang bersih dan jiwa yang siap menerima limpahan rahmat.

 Memperbanyak Shalawat Nabi

Salah satu keutamaan bulan Sya‘ban yang sangat dikenal adalah anjuran memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini dikaitkan dengan turunnya ayat: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”.(QS. Al-Ahzab, 33:56).

Sebagian ulama dan mufassir menyebutkan bahwa ayat ini turun pada bulan Sya‘ban. Oleh karena itu, Sya‘ban sering disebut sebagai bulan shalawat. Rasulullah SAW sendiri dikenal sangat memperbanyak shalawat dan ibadah pada bulan ini sebagai bentuk kecintaan dan syukur kepada Allah.

Memperbanyak shalawat di bulan Sya‘ban dipahami sebagai sarana membersihkan hati, menumbuhkan cinta kepada Rasulullah SAW, serta mempersiapkan diri menyambut Ramadhan. Dalam hadits lain disebutkan bahwa siapa yang bershalawat kepada Nabi satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali (HR.Muslim). Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan menjadikan bulan Sya‘ban sebagai waktu memperbanyak shalawat, baik secara pribadi maupun berjamaah, sebagai bagian dari perjalanan spiritual menuju Ramadhan.

Selamat mengisi malam Nisfu Sya’ban dengan amalan baik, shalawat, dan doa-doa. Mari makmurkan masjid mushola kita di malam Nisfu Sya'ban. Allohumma barik lana fi rojaba wa sya’bana wa balighna romadhona. (*)