Ticker

6/recent/ticker-posts

Mengenal Bedug dan Kandungan Filosofisnya

 



kabarNU(11/1)- Bagi kalangan nahdliyin, bedug (bedhug) dan kentong (kenthong, kenthongan) tentu sudah tidak asing lagi. Bahkan nahdliyin menjadikan bedug dan atau kentong menjadi ciri khas masjid dan musholla mereka. Keduanya berfungsi pokok sebagai penanda masuknya waktu shalat lima waktu. Di pesantren kentong biasa juga dipakai sebagai penanda kegiatan pengajian kitab. Cara menabuh alat bunyian membranphone pun khas. Pada kesempatan ini kita akan kupas khusus terkait bedug dari berbagai sumber literasi.

Bedug merupakan alat bunyi yang ditabuh dengan cara dipukul. Bentuk bedug menyerupai drum dengan ukuran bervariasi. Bedug terbuat dari batang kayu besar yang dilobangi tengahnya sehingga tersisa tepiannya, yang kemudian bagian lobang depan dan belakangnya ditutup dengan kulit yang sudah disamak (welulang). Seiring jarangnya batang kayu berukuran besar, bentuk tabung bedug disusun dari rangkaian papan kayu, yang kemudian lobang depan-belakang ditutup dengan kulit. Umumnya kulit penutup bedug berasal dari kulit kambing, sapi, atau kerbau.

Bedug di masjid di Nusantara sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu. Bedug diperkirakan muncul pertama pada masa Laksamana Cheng Ho mendarat di Semarang pada tahun 1406M. Cheng Ho memberikan hadiah bedug kepada penguasa Semarang yang kemudian ditempatkan di masjid. Akan tetapi sekarang ini tinggalan bedug tua hanya terdapat di beberapa daerah saja. Salah satu bedug tertua berada di Masjid Sabilul Huda Karangampel Indramayu, yang diperkirakan dibuat sekitar tahun 1112H/1692M. Bedug ini dipercaya buatan Sunan Welang (Sunan Elang) murid Syekh Quro, terbuat dari kayu sidaguri. Satu kurun adalah bedug Kyai Dondong atau bedug Nyai Pringgit di Masjid Mataram Kotagede Yogyakarta yang diperkirakan dibuat tahun 1640M. Dipercaya satu kurun lagi adalah bedug Bayan Beleq di Masjid Bayan Lombok Utara NTB yang diperkirakan dibuat abad 16.

Selain itu terdapat juga bedug tua, di antaranya bedug Masjid Al Osmani Medan Belawan yang diperkirakan dibuat tahun 1854M. Bedug Masjid Al Ikhlas Belitung buatan tahun 1817M yang terkait dengan masuknya Datuk Mayang Gresik menyebarkan Islam ke Balitung sekitar tahun 1520M. Kemudian bedug Pendowo (bedug Kyai Bagelen) di masjid Darul Muttaqien Sindurjan Purworejo buatan 1834M. Bedug tua juga terdapat di Masjid Jami’ Madandan Kabupaten Tana Toraja yang ditaksir buatan tahun 1858M.

Nama ‘bedug’ sudah dikenal lama dan tertera dalam karya sastra Kidung Malat pada Pupuh XLIX (49) yang ditulis pada masa Majapahit (1293-1527M). Disebutkan bedug berfungsi sebagai alat media untuk mengumpulkan warga masyarakat saat itu yang lebih untuk keperluan persiapan perang. Dalam catatan Cornelis de Houtman Belanda (1595-1597M) disebutkan bedug populer di wilayah Banten yang berfungsi antara lain sebagai penanda waktu. Seiring perjalanan waktu fungsi bedug lebih menyatu dengan keberadaan masjid sebagai tempat ibadah umat Islam, yang bukan lagi sebagai penanda persiapan perang fisik, akan tetapi lebih sebagai penanda persiapan perang melawan hawa nafsu dengan melakukan ibadah shalat lima waktu.

Pada perkembangannya alat bedug ini menyatu dengan kentong (kentongan). Irama menabuh kentong dan bedug pun khas, sembilan kali bunyi kentong dan satu dua kali bunyi bedug: tong-tong-tong-tong-tong-tong-tong-tong-tong-bleng(-bleng). Secara filosofis bunyi ‘tong’ (thong) sama dengan kata ‘kothong’ (kosong), yang mengandung makna perintah untuk mengosongkan (meniadakan) urusan hawa nafsu duniawiyah; sedangkan bunyi ‘bleng’ berkonotasi ‘mlebu bleng’ (masuk penuh) yang mengandung makna perintah untuk masuk sepenuh jiwa raga pasrah hanya kepada Allah SWT dengan menjalankan ibadah shalat. Ini menyambung dengan ayat Al Quran QS Al Ankabut (29:45), yang artinya:”Bacalah Kitab Al Quran yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan ketahuilah mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Wallahu a’lam.