Ticker

6/recent/ticker-posts

Tapaki Abad Ke-2: Refleksi 103 NU Mengukir Sejarah


Tepat pada 16 Rajab 1447 Hijriah, yang bertepatan dengan 5 Januari 2026, Nahdlatul Ulama (NU) genap berusia 103 tahun. Perjalanan lebih dari satu abad ini bukanlah sekadar angka, melainkan manifestasi dari kegigihan menjaga keseimbangan antara langit (spiritualitas) dan bumi (nasionalisme). Sejak didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri, NU telah berevolusi dari gerakan ulama tradisional menjadi kekuatan masyarakat sipil terbesar di dunia (Fealy & Bush, 2015: 12).

Di masa pra-kemerdekaan, NU memainkan peran vital dalam meletakkan fondasi kebangsaan. Melalui jaringan pesantren, NU tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga menyemai benih perlawanan terhadap kolonialisme. Puncaknya adalah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, sebuah fatwa monumental yang menegaskan bahwa membela tanah air adalah fardu ain (kewajiban individual). Tanpa Resolusi Jihad, peristiwa 10 November di Surabaya mungkin tidak akan memiliki ruh penggerak massal yang begitu dahsyat (Zuhri, 1987: 210).

Memasuki masa awal kemerdekaan (1945-1965), NU menunjukkan fleksibilitas politiknya demi keutuhan bangsa. Meskipun sempat menjadi partai politik pada 1952, NU konsisten menjaga ideologi Pancasila dari ancaman ekstremisme kanan maupun kiri. NU menjadi penyeimbang di tengah gejolak politik ideologis yang tajam, dengan tetap mengedepankan kaidah fiqih siyasah yang moderat (Marijan, 1992: 85).

Pada masa Orde Baru (1966-1998), NU mengalami fase krusial dengan keputusan "Kembali ke Khittah 1926" pada Muktamar Situbondo tahun 1984. Di bawah kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), NU menarik diri dari politik praktis partai dan kembali menjadi organisasi sosial keagamaan. Langkah ini justru memperkuat posisi NU sebagai kekuatan moral yang kritis terhadap otoritarianisme sambil terus membumikan nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia (Hefner, 2000: 162).

Era Reformasi (1998-2017) menjadi panggung bagi NU untuk membuktikan kematangannya dalam berdemokrasi. Terpilihnya Gus Dur sebagai Presiden RI keempat merupakan simbol puncak pengakuan terhadap peran NU. Pada periode ini, NU juga menjadi garda terdepan dalam melawan arus radikalisme yang mulai menyusup ke ruang publik, dengan mempromosikan jargon "Islam Nusantara" sebagai model Islam yang ramah, moderat, dan toleran terhadap budaya lokal (Siradj, 2016: 45).

Kini, di masa globalisasi (2018-sekarang), NU tidak lagi hanya berbicara dalam lingkup domestik. Melalui inisiatif "R20" (Religion Forum) dan promosi internasional mengenai wasathiyah (moderasi beragama), NU mulai mengekspor gagasan perdamaian ke kancah global. NU menyadari bahwa tantangan abad ke-21 bukan lagi soal perbatasan negara, melainkan perubahan iklim, disrupsi teknologi, dan ketimpangan ekonomi global yang membutuhkan solusi spiritual sekaligus praktis.

Kekuatan utama NU terletak pada konsistensinya memegang teguh nilai Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja). Empat pilar utama Aswaja, yaitu Tawassuth (moderat), Tawazun (seimbang), I'tidal (tegak lurus), dan Tasamuh (toleran), menjadi kompas yang membuat NU tidak mudah terombang-ambing oleh arus ekstremisme. Nilai-nilai ini menjadi jangkar bagi integrasi sosial di Indonesia yang sangat majemuk (Bisri, 1994: 32).

Selain peran politik dan sosial, kontribusi NU dalam sektor pendidikan melalui LP Ma'arif dan ribuan pesantren adalah aset bangsa yang tak ternilai. Pesantren kini tidak hanya mencetak ahli agama, tetapi juga mulai merambah pada pengembangan ekonomi kreatif dan teknologi informasi. Transformasi ini penting agar santri tidak gagap menghadapi revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 (Anam, 2010: 118).

Di bidang ekonomi, refleksi 103 tahun ini menuntut NU untuk lebih serius menggarap kemandirian umat. Penguatan Lembaga Perekonomian NU dan optimalisasi tata kelola zakat serta wakaf menjadi kunci agar warga Nahdliyin tidak hanya menjadi obyek pasar, tetapi juga pemain aktif dalam ekonomi syariah nasional. Hal ini selaras dengan cita-cita Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Saudagar) yang menjadi akar sejarah berdirinya NU.

Secara internasional, NU aktif membangun dialog antarperadaban. Keberadaan Pengurus Cabang Istimewa (PCINU) di puluhan negara menjadi duta diplomasi santun yang memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang damai. Ini membuktikan bahwa identitas keislaman dan kebangsaan bisa berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan, sebuah tesis yang banyak dikaji oleh akademisi Barat saat ini.

Namun, tantangan ke depan tidaklah mudah. Di usia 103 tahun, NU menghadapi masalah internal seperti standarisasi organisasi dan eksternal berupa polarisasi digital. Generasi muda NU (Nahdliyin milenial dan Gen-Z) memiliki cara pandang yang cukup berbeda, sehingga organisasi perlu melakukan digitalisasi dakwah agar pesan-pesan Aswaja tetap relevan dan menarik bagi mereka yang hidup di dunia maya.

MWCNU Kebumen peringati Harlah Ke-103 NU di gedung baru 

Dalam konteks regional, Jawa Tengah senantiasa menjadi benteng utama sekaligus barometer kekuatan Nahdliyin nasional. Di tingkat provinsi, PWNU Jawa Tengah secara konsisten menggerakkan program kemandirian ekonomi melalui jaringan koin NU yang masif dan penguatan sistem pendidikan terpadu yang menyinergikan ribuan pesantren dengan lembaga formal (Masyhuri, 2021: 76). Gerakan ini semakin membumi hingga ke Kabupaten Kebumen, di mana NU berperan vital sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam penguatan sektor sosial-keagamaan. PCNU Kebumen dikenal aktif dalam pemberdayaan masyarakat pedesaan melalui berbagai badan otonom dan lembaga pendidikan, yang tidak hanya menjaga tradisi tahlilan dan sholawatan sebagai perekat sosial, tetapi juga menginisiasi gerakan kesehatan masyarakat dan tanggap bencana di wilayah pesisir selatan (Zuhri, 2023: 42). Kiprah lokal di Jawa Tengah dan Kebumen ini menjadi bukti nyata bahwa visi besar "Merawat Jagat" dimulai dari langkah konkret "Membangun Desa". Dengan basis kultural yang sangat akar rumput, warga NU di Kebumen berhasil menunjukkan bahwa nilai-nilai Aswaja mampu menjadi solusi atas problematika lokal, mulai dari pengentasan kemiskinan hingga menjaga kerukunan antarwarga di tengah arus perubahan zaman. Sinergi antara kearifan lokal Kebumen dengan prinsip universal NU inilah yang memperkokoh posisi organisasi sebagai pelayan umat yang paling relevan bagi masyarakat Jawa Tengah hingga saat ini.

Di balik semua itu, kiprah nyata yang tanpa terpublikasi pun sangat banyak. Menapaki Abad Kedua, NU masih tetap dengan jati dirinya. Mari tetap semangat dan istiqamah berkhidmat bersama NU dimanapun dan kapanpun. Tanpa kenal lelah, tetap semangat menuntun anak-anak dan remaja mengenal Islam Aswaja khas NU. Bismillah. Semoga Allah SWT senantiasa meridloi perjuangan kita semua.(LTM2025)

 

Sumber 

Anam, Choirul. (2010). Pertumbuhan dan Perkembangan NU. Surabaya: Duta Aksara Mulia.

Bisri, Mustofa. (1994). Pustaka Quanta: Memahami Nilai-Nilai NU. Jakarta: Pustaka Utama.

Fealy, Greg & Bush, Robin. (2015). Nahdlatul Ulama and the Struggle for Power within Indonesia. Cambridge: Cambridge University Press.

Hefner, Robert W. (2000). Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Princeton: Princeton University Press.

Marijan, Kacung. (1992). Quo Vadis NU: Setelah Kembali ke Khittah 1926. Jakarta: Erlangga.

Siradj, Said Aqil. (2016). Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh hingga Antropologi. Jakarta: LTN-NU.

Zuhri, Saifuddin. (1987). Berangkat dari Pesantren. Jakarta: Gunung Agung.

Masyhuri, Aziz. (2021). Dinamika Nahdlatul Ulama di Jawa Tengah: Tradisi dan Transformasi. Semarang: PWNU Press.

Zuhri, Moh. (2023). Sejarah dan Gerakan Sosial PCNU Kebumen: Dari Pesantren ke Pemberdayaan Umat. Kebumen: IMNU Kebumen.

NU Online. (2026). Sejarah dan Peran Strategis Nahdlatul Ulama. Diakses dari https://www.nu.or.id

Kementerian Agama RI. Moderasi Beragama dalam Bingkai Aswaja. Diakses dari https://kemenag.go.id

Lembaga Pustaka dan Penerbitan NU. Digitalisasi Manuskrip Ulama Nusantara. Diakses dari https://ltnnuntt.or.id

Warta NU Kebumen. (2025). Khidmah Jam'iyah NU untuk Masyarakat Kebumen. Diakses dari https://nukebumen.or.id