Bulan
Sya’ban adalah bulan ke-8 dalam kalender Hijriyah. Sya'ban terletak di antara dua
bulan yang sangat penting dalam Islam, yakni Rajab dan Ramadhan. Posisi ini
membuatnya unik. Sya'ban tidak sepopuler Rajab atau seterang Ramadhan, tetapi memiliki peran
strategis dalam ritme spiritual umat Islam. Secara bahasa, nama Sya’ban berasal
dari kata Arab syi’b yang berarti cabang, jalan, atau percabangan.
Para ulama menjelaskan bahwa bulan ini “tercabang dari kebaikan yang banyak”,
menandakan banyak peluang pahala yang tersedia di dalamnya.
Al-Qur’an
sendiri tidak menyebut Sya’ban secara eksplisit, tetapi menegaskan
pentingnya memanfaatkan waktu sebagai anugerah Allah SWT: “Sesungguhnya
jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan…” (QS At-Taubah 9:36). Ayat
ini menjadi pengingat bahwa setiap bulan memiliki makna dan kesempatan
tersendiri bagi umat Islam untuk beramal lebih baik dan mempersiapkan diri
secara spiritual, termasuk bulan Sya’ban sebelum Ramadhan tiba.
Salah satu
aspek teologis utama Sya’ban adalah ketika amal-amal hamba diangkat kepada
Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Itulah bulan yang biasa dilupakan orang,
antara Rajab dan Ramadan. Bulan ini amal-amal diangkat kepada Tuhan semesta
alam, dan aku ingin ketika amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (HR
An-Nasa’i). Hal ini menguatkan dorongan
untuk memperbanyak ibadah di Sya’ban, terutama puasa sunnah, sebagai bentuk
kesiapan menyongsong Ramadan. Rasulullah ﷺ sendiri dikenal paling banyak
melakukan puasa sunnahnya di bulan Sya’ban dibanding bulan lain (kecuali
Ramadan).
Nisfu
Sya’ban
Tradisi
yang paling dikenal dalam Sya’ban adalah Nisfu Sya’ban, atau pertengahan bulan
(tanggal 15). Banyak umat Islam di Asia Selatan dan Asia Tenggara mengenalnya
sebagai Shab-e-Barat (malam ketika mereka memperbanyak doa memohon
ampunan dan rahmat). Meskipun ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai
status ibadah khusus di malam ini, masyarakat secara luas melihat malam
pertengahan ini sebagai momen istimewa untuk introspeksi diri, tahajud,
tadarus, dan doa panjang menjelang Ramadan.
Banyak keterangan
hadis yang menyinggung aktivitas Nabi ﷺ di bulan Sya’ban. Beliau diketahui
sering memperbanyak puasa sunnah, berdoa, berdzikir, dan memperbaiki hubungan
dengan Allah SWT pada bulan ini sebagai “latihan spiritual” sebelum
Ramadan. Para ulama klasik menegaskan bahwa upaya memperbanyak amalan pada
bulan ini adalah bentuk kesungguhan seorang Muslim dalam memperbaiki diri dan
memenuhi hak-hak Allah SWT. Diriwayatkan pula anjuran untuk memperbanyak istighfar
(permohonan ampun) dan memperbaiki karakter diri.
Para
pemikir Islam, seperti Imam Al-Ghazali, menekankan bahwa Sya’ban adalah pintu
mencapai kemuliaan ibadah. Menurutnya, pada masa pertengahan bulan ini
Allah membuka banyak peluang syafaat dan rahmat untuk hamba-Nya yang sadar dan
beramal.
Sya’ban juga
disebut sebagai syahrul qurra’ (bulan para pembaca Al-Qur’ani) karena
umat dianjurkan memperbanyak baca Al-Qur’an untuk menguatkan hati dan iman
menjelang Ramadan.
Tradisi
Nusantara
Di Nusantara, khususnya di Jawa, bulan Sya’ban dikenal sebagai bulan Ruwah atau Arwah. Nama ini berasal dari adaptasi kata Arab “arwah” yang menjadi ruwah dalam tradisi Jawa. Penamaan ini bukan sekadar istilah, melainkan terkait dengan praktik budaya yang berkembang di masyarakat. Tradisi Ruwahan meliputi: (a)ziarah kubur untuk mendoakan arwah (jiwa) orang-orang yang meninggal, terutama keluarga dan leluhur, sebagai bentuk pengingat akan kematian (li-dzikri-lmaut); (b)tahlilan, yasinan, dan doa bersama di makam atau rumah. Praktik ini dimaknai sebagai solidaritas spiritual terhadap mereka yang telah wafat; dan (c)pengiriman makanan atau parsel kepada kerabat sebagai simbol kasih sayang dan silaturahim. Tradisi ini mencerminkan nilai sosial yang kuat dalam budaya Nusantara.
Di Aceh
dikenal tradisi yang mirip dengan tradisi Ruwahan (Jawa), yaitu, khanduri
arwah, khanduri ruwah, beureu'at. Ini biasanya dilaksanakan menjelang Ramadhan, sering
bertepatan dengan Sya’ban. Biasanya ditandai dengan doa bersama untuk leluhur,
sedekah makanan (nasi, lauk) ke masjid atau tetangga, dan dipimpin oleh teungku
(ulama kampung).
Di Minangkabau
(Sumatra Barat) tradisi yang mirip dikenal dengan sebutan mandoa/badoa arwah, batagak
doa. Pada praktiknya berupa ziarah kubur keluarga, pembacaan tahlil dan doa,
dan jamuan sederhana. Disana dikenal filosofi: Adat basandi syarak, syarak
basandi Kitabullah; tradisi ini dilihat sebagai adat yang bersandar pada
nilai syariat, bukan ritual baru.
Di Banjar
(Kalimantan Selatan) dikenal tradisi ba’aarwah dan haul keluarga. Cirinya
berupa kegiatan doa arwah leluhur, pembacaan Yasin, tahlil, dan sedekah makanan.
Masyarakat Banjar memandang bulan Sya’ban sebagai bulan “pembersihan batin”
sebelum Ramadhan.
Masyarakat
Bugis-Makassar (Sulawesi) dikenal tradisi maccera’ kuburu (membersihkan
makam). Ini tentang doa dan ziarah
menjelang Ramadhan. Di dalamnya termuat nilai-nilai menghormati leluhur, meneguhkan
hubungan antara yang hidup dan yang wafat, dan memperkuat solidaritas keluarga
besar
Masyarakat
Sasak (Lombok Nusa Tenggara) tradisi sejenis ini disebut Rowah atau
Ruwahan. Nama dan praktiknya sangat
dekat dengan Jawa, akibat pengaruh Wali Songo dan Islam Nusantara pada umumnya.
Kegiatan utamanya berupa ziarah kubur, doa bersama, dan sedekah makanan.
Para ulama/kyai
NU sering melihat Ruwahan sebagai amal jariyah karena doa dan sedekah
yang terus mengalir bagi yang telah meninggal. Bulan Sya’ban menjadi bulan spiritual
yang sarat makna dalam dimensi teologis dan sosial. Secara teologis, Sya’ban merupakan
waktu diangkatnya amal kepada Allah, dan ini peluang bagi pengampunan, dan
persiapan menuju Ramadan. Secara ritual,
banyak umat Islam memperbanyak puasa sunnah, doa, dzikir, serta tadarus sebagai
latihan rohani. Secara budaya, Nusantara
memiliki tradisi unik seperti Ruwahan, ziarah kubur, dan silaturahim
yang kaya akan makna sosial.
Allahumma
bariklana fi Rajaba wa Sya’bana, wa ballighna Ramadhana
Bulan
Sya’ban bukan sekadar fase kalender Hijriyah, tetapi di dalamnya terdapat momentum
refleksi, penyucian diri, dan penyambung relasi sosial. Selamat datang bulan
Sya’ban 1447H. Mari makmurkan masjid mushola kita._(LTMNU2026)
