Ticker

6/recent/ticker-posts

Qonun Asasi NU


Tulisan ini disarikan dari Muqaddimah Qonun Asasi karya KH Hasyim Asy’ari. Tulisan mencoba menggali beberapa ‘mutiara’ di dalamnya. Secara historis Muqaddimah tentang landasan dasar organisasi NU ini disampaikan pada saat Muktamar NU Ke-1 di Surabaya 1926.

Qanun Asasi Nahdlatul Ulama (NU) merupakan teks mendasar yang membantu kita memahami arah dan semangat organisasi ini. Bagian yang dikenal sebagai Muqaddimah Al-Qanunil Asasi ditulis oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Isinya bukan sekadar pengantar organisasi, melainkan nasihat penting dan pemikiran tentang bagaimana umat membangun kehidupan bersama berdasarkan ajaran agama, ilmu, dan akhlak.

Pokok pikiran yang menonjol dalam Muqaddimah tersebut adalah pentingnya persatuan. KH Hasyim Asy’ari mengingatkan bahwa pertemuan, saling mengenal, kebersamaan, dan kekompakan membawa manfaat besar bagi masyarakat. Manusia tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhannya seorang diri; kehidupan bersama membutuhkan kerja sama dan kepedulian.

Persatuan dalam teks ini bukan hanya berkumpul secara fisik. Ia menuntut kesatuan hati, tujuan, dan kesediaan untuk saling membantu. Umat digambarkan seperti satu tubuh; ketika satu bagian merasakan sakit, bagian lain turut merasakannya. Gambaran ini menegaskan bahwa persoalan sesama tidak semestinya dianggap sebagai urusan orang lain semata.

Sebaliknya, perpecahan dipandang sebagai sumber kelemahan. Pertengkaran, kedengkian, permusuhan, dan sikap saling menjatuhkan dapat menggerogoti kekuatan bersama. Pesan ini tetap relevan dalam kehidupan organisasi maupun ruang publik hari ini, ketika perbedaan pendapat mudah berubah menjadi kecurigaan dan konflik berkepanjangan.

Namun, persatuan bukan berarti menghapus perbedaan atau menutup ruang kritik. Muqaddimah tersebut menekankan nasihat, kerja sama dalam kebaikan, dan upaya menegakkan kebenaran. Dengan demikian, kebersamaan perlu dirawat melalui sikap saling mengingatkan secara baik, bukan dengan memperbesar pertentangan atau merendahkan sesama.

Dimensi penting lainnya adalah penghormatan terhadap ilmu dan ulama. Teks ini mengingatkan agar umat memperhatikan dari siapa ajaran agama dipelajari. Ilmu dipahami sebagai amanah yang diwariskan melalui sanad atau mata rantai keilmuan. Pesan ini mengajak pembaca untuk teliti terhadap sumber pengetahuan, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, dan tidak mengikuti sesuatu tanpa dasar yang memadai.

Muqaddimah Al-Qanunil Asasi juga menempatkan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah dan rujukan kepada mazhab-mazhab fikih sebagai bagian penting dari identitas keilmuan yang dibicarakan di dalamnya. Penekanannya bukan semata pada nama atau simbol, melainkan pada tanggung jawab menjaga kesinambungan ilmu serta menyampaikan ajaran dengan kehati-hatian.

Selain ilmu dan persatuan, teks ini menggarisbawahi pentingnya musyawarah, nasihat, kesabaran, dan tolong-menolong dalam kebajikan. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa kehidupan berjamaah membutuhkan etika: keputusan tidak seharusnya hanya mengikuti kepentingan pribadi, sedangkan perbedaan perlu dikelola dengan pertimbangan dan tanggung jawab bersama.

Bagi warga NU, membaca kembali Qanun Asasi berarti menengok fondasi moral organisasi. Bagi masyarakat luas, pesannya juga terbuka, bahwa komunitas yang kuat dibangun melalui ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan, solidaritas, sikap adil, dan kemampuan bekerja sama melampaui kepentingan sempit. Nilai-nilai itu perlu diwujudkan dalam tindakan sehari-hari, bukan berhenti sebagai kutipan atau slogan.

Pada akhirnya, Muqaddimah Al-Qanunil Asasi mengajak kita merawat dua hal yang saling berkaitan, yakni keteguhan berpegang pada ajaran dan kelapangan dalam membangun kebersamaan. Persatuan tanpa ilmu mudah kehilangan arah, sementara ilmu tanpa akhlak dan kepedulian berisiko menjauh dari kemaslahatan. Membaca teks ini hari ini semestinya menjadi dorongan untuk memperkuat persaudaraan, memperdalam pengetahuan, dan menghadirkan manfaat nyata bagi umat serta masyarakat.

Bagi Nahdlatul Ulama (NU), Qanun Asasi bukan sekadar dokumen lama yang menyimpan pemikiran para pendirinya, melainkan landasan pemikiran yang menjelaskan mengapa NU didirikan, nilai-nilai apa yang harus dijaga, dan bagaimana warga NU semestinya menjalani kehidupan berorganisasi. Melalui Muqaddimah Al-Qanunil Asasi, KH Hasyim Asy’ari menegaskan pentingnya persatuan, persaudaraan, sikap saling menolong, penghormatan terhadap mata rantai keilmuan ulama, serta komitmen pada paham Ahlussunnah wal Jamaah. Nilai-nilai inilah yang menjadi bekal untuk memahami keberadaan NU hingga hari ini; bukan hanya sebagai organisasi besar dengan jutaan anggota dan berbagai lembaga, melainkan sebagai jamaah yang memiliki ikatan keilmuan, ikatan tradisi, dan tanggung jawab bersama. Membaca kembali Qanun Asasi berarti menengok akar NU sekaligus memahami prinsip-prinsip yang semestinya terus menuntun perjalanan NU di tengah perubahan zaman. (Editorial)