Di tahun
1448H/2026 ini, bulan Jumadil Awal kembali menyapa umat Islam, membawa atmosfer
spiritual yang sarat akan refleksi sejarah. Di balik rutinitas harian, bulan
kelima dalam kalender Hijriah ini menyimpan memori kolektif - ingatan bersama - tentang salah satu
pertempuran paling heroik yang pernah dicatat sejarah peradaban Islam. Pada
bulan Jumadil Awal tahun 8 Hijriah, September 629M, atau 1.397 tahun yang lalu, terjadilah Perang Mu'tah, sebuah palagan
yang mempertemukan 3.000 pasukan Muslim melawan kedigdayaan ratusan ribu
tentara Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) dan sekutunya di wilayah yurisdiksi
Yordania hari ini.
Secara
kalkulasi militer dan matematika manusia, pertempuran ini tampak seperti misi
bunuh diri karena ketidakseimbangan jumlah pasukan yang sangat mencolok. Namun,
esensi dari Perang Mu'tah bukanlah tentang menang atau kalah di atas kertas,
melainkan tentang pembuktian kualitas iman dan mentalitas para sahabat Nabi SAW.
Dari bumi Mu'tah yang gersang, memancar keteladanan yang tidak akan pernah
usang oleh waktu. Menghidupkan kembali kisah ini di bulan Jumadil Awal memberi
kita kesempatan untuk memetik sedikitnya empat ibrah (pelajaran) penting bagi
kehidupan modern.
Ibrah pertama,
yang sangat menonjol dari peristiwa ini adalah urgensi penegakkan keadilan dan
kehormatan diplomatik. Pemicu utama Perang Mu'tah bukanlah ambisi ekspansi
wilayah atau perebutan kekayaan bumi, melainkan sebuah respons tegas terhadap
kezaliman. Nabi Muhammad SAW mengirimkan Al-Harits bin Umair Al-Azdi sebagai
utusan damai untuk membawa surat dakwah, namun ia dibunuh secara kejam oleh
penguasa Ghassanid. Dalam hukum internasional moralitas Islam, membunuh seorang
diplomat adalah pelanggaran berat, dan ketegasan Rasulullah mengirim pasukan
membuktikan bahwa Islam selalu berdiri paling depan dalam membela kehormatan kemanusiaan
dan keadilan.
Ibrah kedua
terletak pada ketaatan mutlak terhadap struktur komando dan kepemimpinan yang
solid. Sebelum melepas pasukan di Madinah, Rasulullah SAW menetapkan tiga
panglima secara berurutan: Zaid bin Haritsah, Ja'far bin Abi Thalib, dan
Abdullah bin Rawahah. Instruksi ini sangat jelas: jika salah satu gugur, yang
berikutnya wajib mengambil alih kendali. Kepatuhan para sahabat terhadap
formasi kepemimpinan ini membuat pasukan Muslim tetap solid, tidak
tercerai-berai, dan tidak kehilangan arah meskipun ketiga pemimpin terbaik
mereka gugur berturut-turut di medan laga.
Ibrah ketiga
yang menjadi ruh dari pertempuran ini adalah keberanian mental yang lahir dari
tauhid yang kokoh. Ketika mendengar kabar bahwa musuh berjumlah ratusan ribu,
sebagian pasukan sempat ragu untuk maju. Di tengah kegentingan itu, Abdullah
bin Rawahah membakar semangat mereka dengan kalimat monumental, mengingatkan
bahwa umat Islam bergerak bukan karena mengandalkan jumlah atau kekuatan fisik,
melainkan karena kemuliaan agama yang ada di dada mereka. Pelajaran berharga
ini mengajarkan kita untuk tidak pernah gentar menghadapi tantangan hidup yang
tampak raksasa, selama kita berpijak pada kebenaran dan rida Allah.
Ibrah keempat
adalah pentingnya kecerdasan strategi, inovasi, dan ikhtiar yang maksimal.
Setelah ketiga panglima gugur, komando beralih ke tangan Khalid bin Walid, sang
jenius militer. Khalid tidak pasrah pada keadaan atau sekadar menunggu
keajaiban langit tanpa berbuat apa-apa. Ia memutar otak dan melakukan manuver
psikologis dengan mengubah formasi pasukan setiap hari guna menciptakan ilusi
bahwa bantuan besar dari Madinah telah datang. Taktik brilian ini berhasil
menggetarkan mental musuh, sehingga pasukan Muslim bisa ditarik mundur dengan
selamat tanpa mengalami kekalahan total.
Melalui
kecerdasan taktis Khalid bin Walid, Perang Mu'tah mengajarkan bahwa tawakal
harus selalu berjalan beriringan dengan profesionalisme dan kerja cerdas. Islam
tidak pernah mendidik umatnya untuk menjadi kaum yang fatalis atau pasrah tanpa
usaha yang matang. Di dunia modern saat ini, strategi yang matang, kemampuan
membaca situasi, dan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan adalah kunci
utama untuk bertahan dan memenangkan persaingan di berbagai lini kehidupan.
Kisah heroik
para syuhada Mu'tah juga meninggalkan pesan mendalam tentang makna pengorbanan
yang sesungguhnya. Ja'far bin Abi Thalib, yang kehilangan kedua tangannya demi
menjaga agar panji Islam tidak jatuh ke tanah, menjadi simbol abadi bahwa ada
hal-hal yang jauh lebih berharga untuk dipertahankan daripada sekadar
keselamatan fisik. Pengorbanan mereka membuktikan bahwa warisan iman yang kita
rasakan dengan nikmat hari ini ditebus dengan darah, keringat, dan air mata
para pendahulu yang tulus.
Kini, di saat
bulan Jumadil Awal kembali hadir di tengah-tengah kita, Perang Mu'tah tidak
boleh hanya menjadi lembaran usang dalam buku-buku sejarah yang dibaca tanpa
bekas. Momentum ini harus menjadi alarm pengingat bagi setiap Muslim untuk
mengevaluasi kembali kualitas diri. Apakah kita sudah memiliki keteguhan visi
seperti Zaid, ketulusan pengorbanan seperti Ja'far, kemantapan iman seperti
Abdullah bin Rawahah, dan kecerdasan taktis seperti Khalid bin Walid dalam
mengarungi kehidupan?
Tantangan yang
dihadapi umat Islam saat ini mungkin tidak lagi berupa simfoni pedang dan
denting tameng di medan perang terbuka. Namun, pertempuran melawan kebodohan,
kemiskinan, ketidakadilan, dan degradasi moral di era digital membutuhkan
kualitas mental dan strategi yang sama kuatnya dengan apa yang ditunjukkan di
bumi Mu'tah. Nilai-nilai luhur tersebut harus dikonversi menjadi energi positif
untuk membangun peradaban yang beradab dan berkemajuan.
Sebagai
penutup, mari kita jadikan hari-hari di bulan Jumadil Awal ini sebagai sarana
mawas diri dan penguatan literasi sejarah. Senantiasa memperkuat iman dan
taqwa. Meneladani Perang Mu'tah berarti menolak untuk menyerah pada keadaan
yang sulit dan terus mengasah potensi terbaik yang kita miliki. Semoga spirit
Mu'tah senantiasa mengalir dalam nadi kita, membentuk pribadi yang tangguh
secara iman, unggul secara intelektual, dan bijaksana dalam mengambil tindakan.
Wallahu a’lam.
