LTMNU(04/10)- Perhelatan
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama
di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, telah resmi usai. Kepengurusan
PBNU juga sudah resmi. Di bawah duet nakhoda baru Rais Aam KH Miftachul Akhyar
dan Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) untuk masa khidmah
2026–2031, NU membawa mandat besar untuk menyelaraskan kembali doktrin historis
organisasi dengan realitas zaman.
Salah satu cetak biru
moral NU yang kembali digaungkan adalah Mabadi Khaira Ummah (MKU).
Konsep warisan KH Mahfud Siddiq sejak tahun 1938 ini bukanlah teks kuno yang
kaku. MKU merupakan lima pilar etika (Al-Mabadi Al-Khamsah), yaitu Ash-Shidqu
(kejujuran), Al-Amanah (kepercayaan), Al-'Adalah (keadilan), At-Ta'awun
(gotong-royong), dan Al-Istiqamah (konsistensi). MKU dirancang untuk
mencetak umat terbaik.
Agar tidak menjadi
jargon semata, MKU penting dioperasikan melalui tiga dimensi utama: fikrah,
harakah, dan amaliyah. Fikrah (paradigma) dioperasikan menjadikan keadilan dan kejujuran sebagai cara
pandang dan kacamata berpikir dalam merespons isu-isu publik.
Harakah (gerakan) dioperasikan menjembatani
pemikiran tersebut menjadi gerakan kolektif organisasi yang terstruktur. Sedangkan
Amaliyah (praktik) dengan menjadikan kelima nilai dasar tersebut sebagai
karakter nyata dan perilaku sehari-hari warga Nahdliyin di tengah masyarakat.
Hasil Muktamar 2026 di
Jombang menetapkan tiga mandat utama PBNU, yaitu, konsolidasi organisasi, penguatan
umat, dan kontribusi peradaban. Ketiganya memiliki kaitan emosional dan
struktural yang erat dengan MKU.
Hubungan nilai MKU dan program besar PBNU dapat dilihat secara langsung melalui peta taktis berikut. Pertama, Konsolidasi Organisasi berlandaskan Ash-Shidqu & Al-Amanah. Langkah rekonsiliasi faksi pasca-muktamar dan penataan struktur di tingkat internal hanya bisa berjalan kokoh jika para pengurus mengedepankan keterbukaan dan integritas moral.
Kedua, Penguatan Umat
berlandaskan At-Ta'awun & Al-I’tidal. Agenda kemandirian
ekonomi, peningkatan mutu pesantren, serta penanggulangan kemiskinan adalah
wujud nyata dari gotong-royong sosial untuk menciptakan tatanan masyarakat yang
adil. Ketiga, Kontribusi Peradaban berlandaskan Al-Istiqamah.
Menjaga marwah Islam yang ramah (Aswaja An-Nahdliyah) di tengah gempuran
teknologi, krisis iklim, dan dinamika geopolitik global menuntut keteguhan
sikap yang konsisten dari NU.
Bagaimana dengan masjid
dan mushola NU di daerah dan pelosok? Masjid mushola bersama LTMNU menjadi
ujung tombak perubahan transformatif. Jika PBNU berada di level perumusan
kebijakan (fikrah), maka di mana tempat gerakan (harakah) dan
praktik (amaliyah) itu diuji? Jawabannya ada pada masjid dan mushola NU,
dengan LTMNU sebagai motor penggeraknya.
Masjid mushola NU tidak
boleh sekadar menjadi tempat ibadah ritual yang hanya memperkuat kesalehan
individu. Dalam semangat MKU dan mandat Muktamar 2026, LTMNU memikul peran tanggung
jawab besar untuk mengubah peran masjid mushola menjadi pusat peradaban dan
kesejahteraan umat.
Masjid mushola sebagai sentra
At-Ta'awun (ekonomi & sosial). Melalui jaringan LTMNU, masjid mushola
NU didorong memiliki fungsi sekunder yang hidup. Mulai dari pengelolaan baitul
maal yang transparan, penyediaan ruang UMKM berbasis masjid, hingga pengadaan
klinik kesehatan gratis bagi jamaah sekitar. Ini adalah bentuk penguatan umat
langsung di akar rumput.
Masjid mushola sebagai penjaga
Fikrah Aswaja. Di era digital, masjid dan mushola NU adalah benteng pelestarian
ajaran dan nilai Islam Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja), sekaligus menjadi pertahanan
utama dari infiltrasi paham radikal dan hoaks. LTMNU penting membangun dan
mengedukasi para takmir agar khutbah, pengajian, dan kajian yang disampaikan
selalu berbasis pada kejujuran ilmiah (ash-shidqu) dan moderasi Islam.
Implementasi Istiqamah
melalui manajemen modern. LTMNU dituntut melakukan digitalisasi database
masjid mushola serta standardisasi kompetensi takmir. Pengelolaan manajemen
masjid yang profesional dan konsisten adalah manifestasi tertinggi dari prinsip
al-amanah wal wafa bil 'ahdi.
Melalui sinergi
kepengurusan PBNU yang baru, gerakan moral Mabadi Khaira Ummah kini
menemukan momentum terbaiknya. Dengan menggerakkan LTMNU untuk menghidupkan
kembali fungsi sosial masjid mushola, NU tidak hanya sedang merawat tradisi
keagamaan, melainkan sedang membumikan mandat muktamar untuk membangun
peradaban bangsa langsung dari serambi masjid/mushola. Wallahu a’lam.(*)
Kontributor: Agus Salim
Chamidi, Ketua LTM PCNU Kebumen.
