Ticker

6/recent/ticker-posts

LTMNU Garap Masjid Bersejarah, Ini Sekilas Masjid Su'ada Bandung Kebumen



LTMNU(04/04)- Bertempat di Ranting NU Bandung Kebumen, Lembaga Takmir Masjid (LTM) PCNU Kebumen selenggarakan rapat koordinasi (rakor), Jumat malam (3/4/2026). Rapat digelar dalam rangka persiapan kegiatan silaturahim LTM PWNU Jawa Tengah (Ahad 26/2/2026). Hadir Ketua LTM PCNU Kebumen H Agus Salim Chamidi MPd.I dan Sekretaris Nasichin SM. Hadir K Amin Rosyid mewakili MWCNU Kebumen. Hadir K Agus Abdul Haq Pengasuh Ponpes Nurul Hidayah Bandung Kebumen. Hadir Ketua Ranting NU Bandung K Syarif Hidayat SHI beserta jajarannya, Ketua Takmir Masjid Jami' Su'ada K Mokhamad Toyibin beserta jajarannya. Rapat berlangsung santai namun khidmat di kediaman Ketua Ranting NU.

LTM PWNU Jawa Tengah direncanakan hadir dalam rangka silaturahim dan pemberian prasasti kategori Masjid Bersejarah untuk Masjid Jami' Su'ada Desa Bandung Kebumen. Sebagaimana diketahui LTM PWNU Jateng tengah menggalakkan program plangisasi prasasti masjid-masjid bersejarah di wilayah Jawa Tengah. LTM PWNU sudah menyelenggarakannya di puluhan dari 35 kabupaten/kota di Jateng. Untuk Kabupaten Kebumen ditempatkan di Masjid Jami' Su'ada Dusun Su'ada Desa Bandung Kebumen. Kegiatan akan diselenggarakan pada hari Ahad pagi 26 April 2026.


Sowan KH Jaelani Pengasuh PP Nurul Hidayah Bandung (2/3/2026)



Sekilas Masjid Su'ada
Menurut keterangan KH Jaelani Pengasuh Ponpes Nurul Hidayah Bandung, sejarah Masjid Su'ada merupakan masjid tua sejak zaman Syekh Maulana Yusuf. Sang Syekh diceritakan merupakan guru ngaji Joko Sangkrip. Secara geneologis disebutkan Syekh Maulana Yusuf itu putra dari Syekh Jalaludin Jlarang putra dari Syekh Jalaludin Suyuti Lancar Wonosobo. Makam Syekh Maulana Yusuf sekarang ini berada di Kompleks Makam Sigendung Desa Bojongsari Alian di sebelah timur Desa Bandung Kebumen.

Kompleks Masjid Su'ada ini menyatu dengan kompleks Ponpes Nurul Hidayah Bandung. Nama Su'ada sendiri sesuai dengan nama dusun lokasi masjid, yaitu, Dusun Su'ada (Sungada). Diceritakan KH Jaelani yang juga dibenarkan K Munjid Al Hakim Bojongsari, dulu Desa Bandung dan Desa Bojongsari merupakan satu kesatuan wilayah. Baru setelah 1947 terjadi penataan desa, dan wilayahnya diubah menjadi dua desa, Desa Bandung dan Desa Bojongsari. Hal ini juga dibenarkan Adi Susanto (pengurus takmir, 59 tahun) yang banyak mendapatkan cerita sejarah dari tokoh-tokoh Bandung. Bahkan menurut Adi, di bawah Masjid Su'ada pernah ditemukan kayu di kedalaman lima meter saat dilakukann rehab masjid tahun 2010an. Seiring perkembangan zaman, wajah masjid relatif sudah berubah total. Termasuk adanya sumur tua yang sudah tertutup cor di selatan masjid. Adi juga menambahkan bahwa dulu Syekh Anom Sidakarsa (awal tahun 1800an) diceritakan pernah singgah dan memperbaiki masjid ini.


Masjid Su'ada nampak depan malam hari (2/3/2026)


Joko Sangkrip saat remaja pernah berguru 'ngaji' pada Syekh Maulana Yusuf di Bandung. Joko Sangkrip sendiri merupakan leluhur dari trah Arungbinang. Salah satu keturunannya diceritakan adalah Bupati Arungbinang IV yang berkuasa 1831-1861. Dicertakan bahwa Joko Sangkrip putra dari Pangeran Puger atau Pakubuwono I raja Mataram (1704-1719). Setelah dewasa Joko Sangkrip dikenal dengan Tumenggung Honggowongso. Atas jasanya memadamkan pemberontakan di wilayah Banyumas, Tumenggung Honggowongso diberi gelar Arungbinang. 

Dari sekilas cerita di atas dapat disimpulkan bahwa Masjid Su'ada Bandung didirikan pada masa Syekh Maulana Yusuf. Di sekitar masjid terjadi kegiatan 'ngaji' dan asrama (panggok, pondok). Di sanalah kemudian Joko Sangkrip muda pernah mengenyam ilmu agama Islam dari Syekh Maulana Yusuf. Masjid Su'ada sendiri diperkirakan berdiri pada kurun 1600-1700 (abad 17M).

Kegiatan tadarus Al Quran Masjid Su'ada (2/3/2026)


Langkah LTMNU menggarap masjid bersejarah ini diharapkan akan menggairahkan penelusuran sejarah masjid-masjid  di berbagai lokasi di Kabupaten Kebumen. Menurut Agus Salim, langkah LTM PWNU Jateng di Kebumen ini diharapkan akan memantik kalangan takmir masjid di Kebumen untuk mendokumentasikan aspek kesejarahan masjid masing-masing kedepan. Ini penting agar generasi muda kedepan tidak kehilangan akar sejarah dan budayanya.(*)